7 April 2021 9:56 am

[Rangkuman Kuliah Telegram] Inilah Bulan Mulia itu, Nak! Narasumber: @juliasarahrangkuti

[Rangkuman Kuliah Telegram] Inilah Bulan Mulia itu, Nak! Narasumber: @juliasarahrangkuti
Siapa yang tak rindu akan kedatangan bulan suci Ramadhan?
Kita semua pasti mendamba hadirnya bulan yang penuh berkah ini.
Alhamdulillah, kini Ramadhan ada di tengah-tengah kita.

Sudahkah kita mengenalkan pada anak-anak tentang bulan Ramadhan ini?

Apakah anak-anak kita sudah paham bahwa bulan ini adalah bulan yang mulia?



Hal berbeda yang umat muslim lakukan di bulan ini adalah ibadah puasa. Bagi orang dewasa menjalani puasa dengan menahan lapar dan haus adalah hal yang bisa dikatakan mudah untuk dilalui. Namun, lain halnya dengan anak-anak. Dengan aktivitas bermain dan belajar yang mereka jalani setiap hari, akan ada keluhan dan rengekan yang akan kita dengar ketika mereka berpuasa. Tak sedikit orangtua yang mengalami kesulitan dalam hal ini.

Terlebih jika di lingkungan sekitar rumah, masih banyak anak-anak lain yang seumuran dengan anak kita, yang tidak berpuasa. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri, karena berpuasa akan makin sulit dijalani anak-anak kita.





JANGAN KHAWATIR!

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan Momaru dan Poparu, untuk mengajarkan si kecil berpuasa. Bagaimana caranya kita membangun keinginan pada anak untuk mau memulai berpuasa di bulan Ramadhan?
Apakah kita akan membujuk anak-anak untuk mau belajar berpuasa dengan mengiming-imingi mereka hadiah?
Apakah hal ini diperbolehkan dalam Islam?

Sebetulnya, hal itu boleh saja. Akan tetapi dalam Islam lebih baik jika kita menanamkan motivasi pada anak. Tak hanya sekadar hadiah berbentuk fisik saja. Motivasi itu disebut dengan targhib (menakuti) sehingga tertanam sifat roja’ (berharap pada Allah) dan juga Khauf (takut kepada Allah). Seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Gantungkanlah cambuk di tempat yang terlihat oleh penghuni rumah, sebab ia menjadi pengajaran bagi mereka”.

Bukan berarti kita harus memajang cambuk atau membeli cambuk, akan tapi kita diharapkan bisa lebih memberikan motivasi pada anak bahwa ‘tetap hadiah dari Allah adalah hadiah yang paling indah’ . Jadi mereka akan berpuasa bukan karena mengharap hadiah atau reward yang kita berikan, namun mereka mengharap hadiah yang jauh lebih besar dari Allah, yaitu keridhoan-Nya.

Bagaimana jika anak-anak merasa tidak nyaman karena harus bangun sahur dan menahan lapar serta haus hingga sore hari, ketika belajar berpuasa?


Sebagai orang tua tentunya kita harus memiliki kiat tertentu. Pertama, untuk anak-anak yang berusia di atas empat tahun, orang tua bisa dengan melakukan briefing anak pada malam hari sebelum mereka tidur, jika mereka akan bangun pada malam hari untuk sahur. Kedua, bangunkan sahur di akhir waktu sahur (kurang lebih 45-30 menit sebelum sahur).

Bila melihat dari dua cara di atas, cara tersebut lebih mengarah pada anak-anak yang sudah bisa diajak berkomunikasi dua arah. Akan tetapi bagaimana bila anak-anak Momaru dan Poparu berusia di bawah empat tahun? Untuk anak-anak yang berusia di bawah empat tahun, Momaru dan Poparu bisa terlebih dahulu menanamkan tauhid sehingga menumbuhkan rasa cintanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akan tetapi, jika anak masih terus menolak melakukannya kegiatan ibadah seperti salah satunya puasa, itu tandanya orang tua perlu memerhatikan kembali bagaimana selama ini proses penanaman iman kepada sang anak. Sambungkan semua kejadian yang dialami si anak dengan ketauhidan, bahwa segala yang terjadi di dunia karena kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Laa ilaha illallah
Laa ilaha illallah


Lantas, setelah kita menanamkan tauhid dan memotivasi anak untuk berpuasa, bagaimana jika kita sebagai orangtua meminta mereka untuk mencoba puasa setengah hari karena niat awal kita adalah untuk melatih mereka berpuasa? Alangkah baiknya sedari awal kita memberikan pemahaman bahwa puasa itu dimulai dari subuh hingga maghrib, agar anak memahami definisi puasa yang benar sesuai dengan syariat.

Sebagai orang tua, kita juga harus selalu menyemangati anak setiap kali ia merengek dan menanyakan kapan waktunya berbuka puasa. Kiat agar anak bisa mengurangi rengekannya, Momaru dan Poparu bisa mengalihkan perhatian anak dengan mengajak anak bermain, mengajak anak melihat video islami, membaca buku atau aktivitas lain yang menyenangkan. Selain itu, Momaru dan Poparu juga bisa mengajak anak dengan membuat hal-hal yang ingin dilakukan oleh anak selama bulan ramadhan. Tentunya ketika anak sudah bisa diajak mengemukakan pendapatnya.

Dibuat oleh Mom Tiananda Widyarini setelah kulgram "Inilah Bulan Mulia itu, Nak!"
Dibuat oleh Mom Tiananda Widyarini setelah kulgram "Inilah Bulan Mulia itu, Nak!"

Untuk menambah semangat anak menjalani kegiatan puasa juga bisa dengan mendekorasi rumah dengan nuansa bulan Ramadhan. Dijamin, anak kita akan lebih mengenal bulan Ramadhan dan lebih semanat setiap harinya!

Membentuk kata "Ramadhan" dengan mainan lego
Membentuk kata "Ramadhan" dengan mainan lego



Dekorasi bertema mesjid dengan menggunakan kardus
Dekorasi bertema mesjid dengan menggunakan kardus

Untuk Momaru dan Poparu, sebagai orang tua yang senantiasa mendampingi anak-anak untuk belajar berpuasa, tentunya harus dengan hati yang ikhlas. Melatih anak untuk berpuasa merupakan sebuah ikhtiar dan bagi beberapa orangtua bukanlah hal yang instan. Lakukan secara bertahap dan konsisten. Jangan sampai karena Momaru dan Poparu fokus untuk melatih anak-anak berpuasa, Momaru dan Poparu menjadi kesal karena mungkin waktu yang seharusnya digunakan untuk bertadarus dan lebih fokus meningkatkan kualitas beribadah, menjadi berkurang. Sesungguhnya, apabila orang tua mengajarkan suatu kebaikan dengan ikhlas maka anak-anak pun akan menerima dan menjalankannya dengan ikhlas.

Tetap semangat! InsyaAllah kita bisa!

Blog Post Lainnya
@2022 Rumah Krucil Inc.